Cerita Horror : THE RED-EYED GHOST

Jumat, 26 April 2013

Bagikan Post ini :

Cerita ini saya repost dari facebook. Temen saya yang posting cerita ini pertama kali. Ceritanya bergenre Twited Ending. Check this out

David melompat turun dari taksi begitu dia sampai di depan hotel itu. Hujan deras menerpanya tanpa ampun. 
''Sialan!!!'' David menyumpah-nyumpah. Seluruh tubuh dan pakaiannya benar-benar basah total. Dia berlari pelan dan berteduh di teras hotel. Petir menyambar-nyambar mengerikan. Badai malam itu benar-benar buruk. Angin bertiup kencang dan liar. 
David melangkah masuk ke dalam lobby dan menggeliat pelan merasakan terpaan udara hangat. Tepat saat itu jam dinding besar di sebelahnya berbunyi keras sebanyak sepuluh kali. 
''Selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?'' tanya seorang wanita berambut pirang dengan ramah dibalik meja resepsionis. 
David menarik napas. Dia sedang melakukan perjalanan bisnis ke kota ini. Dia telah mendatangi 7 hotel dan semuanya penuh. Kalau hotel ini penuh juga, dia tidak tahu akan menginap dimana malam ini. Deru badai diluar membuatnya ingin melampiaskan kemarahannya dengan segera. 
''Saya ingin menginap untuk malam ini,'' tukas David memaksakan sebuah senyum. 
''Baiklah. Hanya tinggal 1 kamar yang tersisa. Adanya di lantai 12'' kata wanita itu sambil menyerahkan sebuah kunci bernomor 206 kepada David. Dari aksennya, David bisa mengetahui kalau wanita itu pasti berasal dari selatan. 
''Badai yang parah, eh?'' seru David sambil menyerahkan kartu pengenalnya kepada si resepsionis. 
''Terima kasih. Saya ingin segera beristirahat'' serunya lalu mulai berjalan meninggalkan meja resepsionis. 
''Tunggu, tuan!'' seru wanita itu. 
David memutar tubuh dengan lelah. 
''Iya?'' tanyanya. 
Wanita itu tampak ragu sejenak, mulutnya sedikit terbuka, dia seakan-akan hendak mengatakan sesuatu tapi tidak tahu bagaimana melakukannya. 
''Maaf???'' tanya David. 
''Apapun yang anda dengar nanti, jangan mencoba masuk ke kamar disebelah anda'' kata wanita itu akhirnya. Ekspresi aneh muncul di wajahnya. 
''Maaf???'' tukas David hampir tidak percaya. 
''Jangan masuk ke kamar 205...'' suara wanita itu hampir terdengar seperti sebuah bisikan. David mengerutkan kening. 
''Memangnya saya kelihatan seperti seorang yang bisa melakukan hal seperti itu? Menyelinap masuk ke kamar orang lain ditengah malam?'' tanya David sedikit tersinggung. Wanita itu tampak sedikit malu. Wajahnya memerah. 
''Saya hanya melakukan tugas saja, Tuan. Jangan hiraukan suara-suara yang anda dengar dari kamar itu. Apalagi mencoba untuk masuk kedalamnya. Selamat malam''. Wanita itu lalu kembali ke posisi duduk dan mulai sibuk membuka-buka sebuah buku besar diatas mejanya. 
David berdiri diam di depan lift. Masih berusaha mencerna kata-kata wanita itu. Tapi rasa lelah dan kantuk kembali menguasainya. Dan dengan sedikit paksaan dia menyeret dirinya masuk kedalam lift lalu menekan tombol 12. 
Wanita yang aneh, pikir David. Memangnya suara-suara apa yang dikatakannya. 
Saat dia sampai di dalam kamarnya, David segera membasuh tubuh lalu berganti pakaian. Udara yang hangat membuatnya merasa kembali segar dan kata-kata wanita tadi segera saja dilupakannya. Waktu menunjukkan tepat pukul 11.35 saat David mulai terlelap. Ranjangnya terasa nyaman sekali. Dia bahkan sudah tidak ingat lagi bahwa badai mengerikan sedang meraung-raung di luar sana. 

Pukul 1.30 David terbangun karena suara jeritan seorang wanita. Dia mengerjap-ngerjapkan mata. Kamar hotelnya tampak sedikit gelap, hanya diterangi lampu samar dari toilet. 
Terdengar suara seperti seseorang mengaduh kesakitan. Suara seorang perempuan. Asalnya dari kamar sebelah. Kamar 205. David memasang telinga rapat-rapat di dinding. 
''Perempuan jalang!'' terdengar suara kasar seorang pria yang teredam di balik dinding. 
''Jangan!!! Kumohon!!! Hentikan!!! Hentikan!!!'' wanita itu mengaduh kesakitan lagi. 
Apa-apaan ini??? Pikir David dengan heran. Benar-benar tidak tahu adat. Kenapa mereka membuat keributan ditengah malam seperti ini?. David merebahkan diri kembali ke ranjang lalu menarik selimutnya sampai ke dagu. Samar-samar di dengarnya suara seorang wanita menangis tersedu-sedu. Suara tangisan itu tidak keras tapi David bisa mendengarnya. 
Wanita yang malang. Tinggalkan saja pria brengsek itu. Pikir David dalam hati. 
Wanita itu masih terus saja menangis. David merasa sedikit heran. Dia beranjak bangun dari ranjang. Rasa penasaran menguasainya. Apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu? Pikirnya bertanya-tanya. Dia membuka pintu kamarnya lalu menyelinap keluar pelan-pelan. Koridor lantai 12 tampak gelap dan sunyi. Semua tamu hotel telah beristirahat di kamar mereka. Apa mereka tidak mendengar kehebohan di kamar 205? 
David melangkah tanpa suara mendekati pintu kamar itu. Catnya yang merah mulai mengelupas disana-sini. Angka 205 yang direkatkan di atasnya mulai berkarat dan tampak kotor. 
Suara tangisan wanita itu terdengar lagi. Kali ini lebih pelan. David mengangkat tangan untuk mengetuk pintu itu. Sejenak dia ragu, tapi kemudian dia memutuskan untuk mencari tahu apa yang terjadi. 
Dia mengetuk tiga kali. Tak ada jawaban. Wanita itu masih terus menangis. David merasa sedikit tidak nyaman. Dia mengetuk sekali lagi. 
''Nyonya?'' serunya, cukup keras untuk di dengar wanita itu, dan cukup pelan untuk tidak membangunkan seisi lantai 12. 
Suara tangisan wanita itu berhenti. Koridor itu langsung diliputi keheningan. 
''Nyonya... Apa anda butuh bantuan di dalam sana??'' tanya David. 
Tidak ada jawaban. 
David mengulurkan tangan ke gagang pintu lalu mencoba untuk membukanya. Pintu itu tidak bergeming. Merasa penasaran David membungkukkan badan untuk mengintip melalui lubang kunci. Di dalam kamar itu, dilihatnya seorang wanita dalam daster putih sedang menangis tersedu-sedu tanpa suara diatas tempat tidur. Rambutnya acak-acakkan dan wajahnya tertunduk lemas. Bahunya terguncang pelan diantara isak tangisnya. 
Tiba-tiba David mendengar suara langkah kaki dari koridor di seberang. Dengan gerakan luar biasa cepat David langsung melompat dan berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia tidak ingin kedapatan sedang mengintip kamar orang lain. Itu benar-benar memalukan kalau sampai terjadi. Dia kembali merebahkan diri di tempat tidur. 
Wanita yang malang, pikir David sambil menarik selimutnya ke dagu. Beberapa menit kemudian dia kembali tertidur pulas, 

Tepat pukul 2.27 David kembali terbangun saat mendengar suara gaduh dari kamar sebelah. David menarik napas dengan kesal. 
Apa lagi yang mereka lakukan kali ini? Pikirnya kesal. Dia mendengar suara seperti gelas jatuh. Lalu diikuti suara tawa pelan seorang wanita. 
Hah? Pikir David dengan heran. Ya benar. Wanita itu sedang tertawa terkekeh-kekeh sekarang. Mungkin mereka sudah berbaikkan, pikir David. Dia kembali mengambil posisi tidur tapi rasa penasaran lagi-lagi menguasainya. Dia beranjak bangun dari tempat tidur dan kembali menyelinap keluar dari kamar tidurnya. Koridor itu masih gelap dan sunyi seperti tadi. David berjingkat-jingkat kearah pintu kamar 205 lalu membungkukan badan untuk mengiintip dari lubang kunci lagi. Kali ini dia tidak melihat apapun. Yang dilihatnya hanya sesuatu berwarna merah yang kelihatannya menutupi lubang kunci kamar itu. Astaga!!! Pikir David dengan malu. Mereka pasti tahu kalau tadi aku sedang mengintip. Mereka pasti sudah menutupi lubang kunci itu dengan sesuatu. Mungkin kertas atau atau entah apa. David berlari masuk ke dalam kamarnya. Merasa tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya sepanjang hidupnya. 
Bodoh!!!! Dasar bodoh!!!! David mengata-ngatai dirinya sendiri. Lain kali urus urusanmu sendiri, celanya. Dia merebahkan diri di tempat tidur, menarik selimut menutupi tubuhnya dan tertidur dengan perasaan marah dan malu. 

Paginya, begitu terbangun, dia langsung membereskan barang-barangnya, memasukkan semuanya kedalam tas. Dia ingin segera pergi dari hotel itu. Dia tidak ingin semua orang menatapnya dengan tatapan menuduh sambil berbisik-bisik 
''Ini dia si tukang intip tidak tahu malu''. 
David melangkah tertunduk saat tiba di lobby hotel di lantai bawah, merasa sedikit enggan dan malu untuk menemui si resepsionis. Dia pasti sudah tahu mengenai peristiwa semalam. Namun David sedikit terkejut saat si resepsionis menyapanya dengan sangat ramah. 
''Selamat pagi! Tidur anda nyenyak semalam?'' tanya resepsionis itu sambil menyerahkan kartu tanda pengenal David. 
David hanya tersenyum kecil sambil menyerahkan kunci kamarnya. 
''Terima kasih telah menginap di hotel kami. Kami tunggu kedatangan anda kembali'' seru wanita itu sambil tersenyum lebar. David menanggukkan kepala lalu memutar tubuh dan berjalan keluar dari hotel itu. 
Dia sudah akan memanggil taksi yang kebetulan lewat dihadapannya tapi dia memutuskan dia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di kamar 205 semalam. David berlari-lari kecil ke arah meja resepsionis. Wanita itu mendongakkan kepala dan tampak sedikit terkejut melihat David lagi. 
''Tuan? Ada yang ketinggalan?'' tanyanya ramah. 
''Kamar itu..'' seru David ''Kamar 205...''. 
Dia menatap wajah si resepsionis tanpa berkedip ''Sebenarnya kenapa dengan kamar itu??? Kenapa anda memperingatkan saya untuk tidak masuk ke dalam kamar itu tidak peduli apapun yang saya dengar di dalam sana??''. 
Wanita itu tiba-tiba tampak pucat. Dia menatap David dengan mata terbelalak. 
''Anda tidak mencoba masuk ke dalam kamar itu kan???'' tanyanya setengah berbisik. 
''Tidak!'' kata David berbohong ''Tapi saya mendengar suara-suara semalaman. Saya mendengar seorang wanita menjerit dan menangis. Siapa wanita itu???''. 
Si resepsionis menarik napas dengan lelah. Dia menggigit-gigit bibir sambil berdecak-decak. 
''Berpuluh-puluh tahun yang lalu, saat hotel ini baru saja merayakan hari jadinya yang ke 7, pasangan suami istri Peter dan Marie yang baru saja menikah menginap di kamar itu. Mereka sedang berbulan madu di kota ini. Sang suami adalah pria yang kejam. Dia mendengar gosip kalau istrinya telah berselingkuh dengan pria lain. Maka dia memutuskan untuk mengakhiri hidup istrinya di kamar itu. Dia menusuk kedua mata istrinya dengan pensil lalu mencekiknya sampai mati. Pagi harinya petugas hotel menemukan jenazah wanita malang itu terbujur kaku di tempat tidur. Konon sejak saat itu, setiap tamu yang menginap di kamar itu selalu mengaku dihantui oleh sosok seorang perempuan berbaju putih dan yang paling mengerikan dari hantu perempuan itu adalah matanya!!!''. 
Si resepsionis bergidik ngeri mendengar ceritanya sendiri. 
''Kenapa dengan mata wanita itu???'' tanya David penasaran. 
''Matanya merah seperti darah!!!!''

MAU COPAS? SERTAKAN SUMBERNYA

Anda menyukai artikel diatas?, Silahkan klik disini untuk berlangganan gratis via email, dengan begitu Anda akan mendapat kiriman artikel setiap ada artikel yang terbit di Blog August Peter ini

0 komentar :

Berkomentarlah

Beritahu kami apa yang anda pikirkan

 
Support : Copyright © 2011. August Peter's Blog - All Rights Reserved
Template Edited by August Peter Inspired by Sportapolis Shape5.com
Proudly powered by Blogger